Aktivitas Komunikasi Dapat Menghindari Penyakit Pikun

SIRAJULFUADZIS.COM-Zaman milineal punya potensi menderita penyakit pikun lebih cepat karena kurangnya interaksi komunikasi. Biasanya penyakit pikun di derita oleh orang tua, umurnya sudah sepuh. 

Umur untuk situasi saat ini bukan jaminan menjaga kesehatan dari penyakit pikun. Zaman milinieal, minimnya komunikasi interaktif sosial hal demikian dapat ditemui di tempat umum, kampus, tempat ibadah. Saat berkumpul, terkadang orang yang memanggil temanya tidak dihiraukan karena asik menggunakan media sosial, game dengan khusyuk.

Sejatinya mereka mendengar seruan temanya yang bersebelahan, akibat terlalu asyik sang teman tidak dihiraukan bahkan dianggap tidak ada.

Kasus seperti ini tidak sekali dua kali ditemui, kehadiran media memang merubah cara interaksi komunikasi sosial. Lingkungan demikian, bisa disebut sebagai “red line” semua orang sibuk dengan aktivitas komunikasi dunia maya. 

Cara yang terbaik untuk mentransfer pesak ke teman yang bersebelahan bukan lagi dengan memanggil via suara, cukup kirim message singkat Ia kan mengarahkan wajahnya kemudian bertanya. Smartphone memang kebutuhan pokok semua kalangan, menjadi sentral informasi pekerjaan, perkuliahan, hiburan dan aktivitas sosial lainya.

Namun, kehadiran produk digital ini membuat milinieal malas untuk membaca sejarah dan informasi yang berasal dari produk kertas. Bahkan, generasi pembaca koran berlangganan masih tersisa dibantu generasi 40-80an yang masih butuh informasi terkini. Faktor yang membuat mereka tidak mau memakai produk digital adalah suka lelah membaca, hal demikian di ungkapkan oleh Nurzirwan Jazir. 

Sebenarnya membaca produk tulisan dari bahan kertas membuat memori otak lebih tahan lama mengingat, ketimbang membaca dari smartphone. Aktivitas komunikasi mampu menghindari penyakit pikun, karena desain dari komunikasi merupakan sebuah diskusi yang dibangun oleh pribadi masing-masing manusia.

Berkomunikasi menyehatkan pikiran, terlebih yang diucapkan kalimat-kalimat positif di dasari dengan refrensi bacaan. Membaca merupakan aktivitas komunikasi dalam mempersiapkan bahan untuk diskusi. 

Diskusi tidak diartikan hanya membahas persoalan akademik, tetapi juga diskusi yang bersifat umum. Menurut Edu (Sektretaris Pascasarjana Komunikasi UI) biasakan membaca 6 jam dalam sehari, jika tidak mampu usahakan  cukup 2 jam dengan uraian waktu pada pagi 1 jam kemudian malamnya 1 jam.

Butuhnya membaca, selain menambah wawasan juga memperkuat argumentasi dalam diskusi dengan berbagai pihak. Hal demikian sangat penting dilakukan untuk membuat lebih interaktif dengan audiens. Sinergi antara membaca dengan mengembangkan diskusi bersama orang lain dapat menghindari penyakit pikun dan menjaga memori. 

Menyangi memori otak dari dini, dengan membaca buku bagi para milinieal adalah aktivitas yang tepat. Sangat disayangkan kalau kasus ini terjadi, investasi para milinieal capet punah. Aktivitas membaca informasi dari smarthpone memang memperkaya bahan diskusi layaknya informasi dari tulisan yang cetak di kertas .

Saran yang lebih efektif untuk menjaga keamanan mata dan daya ingat bacalah buku. “Membaca buku penting, tetapi mendiskusikan isi buku jauh lebih penting” tambah Edu Setidaknya, pilih teman diskusi yang baik dapat membantu menghindari penyakit pikun dengan cara rutin berkomunikasi. Bahas apa saja, kegiatan yang menurut pribadi kita menyenangkan. 

Leave a Comment.