Citra dan Rekayasa Penilaian Publik

SIRAJULFUADZIS.COM,– Membangun presepsi publik merupakan kerja dari para ahli komunikasi dalam mengambarkan diri atau orang lain. Opini publik, dibangun perlahan dengan strategi penggunaan citra yang dapat diterima secara logika dengan berbagai kalangan.

Pribadi yang sedang membangun citra, selalu melakukan hal yang unik, berbeda dengan yang lain. Kerap ada yang gagal dalam melakukan “pencitraan”, karena ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan aktivitas yang dilakukan oleh orang yang berusaha mencitrakan dirinya tersebut.

Mereka yang berhasil membangun citra, bisa meraih keuntungan nama baik. Hal yang demikian sejatinya belum menjadi jaminan bahwa karakternya sesuai visualisasi dari kasat mata. Sedikit pengalaman pribadi, saya pernah melihat teman yang bersifat radikal sesuai defenisi yang disepakati di Indonesia.

Namun yang terjadi di lapangan, teman tersebut orang radikal yang menunjuk orang lain radikal. Hanya Ia memaksakan dirinya agar kelihatan tidak radikal dengan memposting gambarnya dengan poster tolak radikalisme.

Gambaran demikian, salah satu contoh cara Ia mencitrakan diri sebagai pribadi yang cinta NKRI. Kenyataan di lapangan Ia hanya pribadi yang biasa bahkan tidak kenal dengan tokoh-tokoh pendiri Republik ini. Rekayasa penilaian publik, begitulah saya memahami keadaan yang sering saya temui. Kebutuhan manusia dinilai positif, sebuah kewajaran sosial karena nilai diri lebih berharga dari pada material. Tetapi sebaliknya, demi sebuah citra uang pun rela melayang untuk mempromosikan diri.

Sudah tidak heran, citra diri juga digunakan dalam dunia politik membuktikan dirinya sebenar-benarnya peduli rakyat kecil saat kampanye. Lantas siapa yang benar-benar paham karakter sang politikus?, keluarga dan para staff lebih paham siapa sebenarnya profil sang politikus.

Mereka juga bisa bersikap di depan dan di belakang publik, rekayasa penilaian publik tentu saja menjadi nilai negatif pada politik demokrasi. Memanipulasi cara pandang orang lain dengan sikap asli sebenarnya.

Proses dasar dalam berinteraksi seperti ini yang harus dipelajari oleh pemilih, bahwa riwayat perjalanan politikus yang sedang mencalonkan diri betul valid dan mau membantu sistem berbangsa. Tidak perlu takut, karena hak manusia bersuara berbeda-beda ditentukan oleh personal dalam kotak suara bukan kelompok.

Menyelamatkan bangsa Indonesia dari manipulasi oknum politikus demikian, kecerdasan pemilih diperlukan untuk menyeimbangkan keadaan negara.

Analoginya kapal yang sudah mulai bocor ditengah laut, penumpangnya terjun ke laut tanpa berusaha memperbaiki keadaan agar kapal normal kembali hingga berlayar sampai tujuan. Para pemilih cerdas secara jentelmen melihat riwayat politikus memainkan citra dan rekayasa publik bertindak menjatuhkan negara dengan cara korupsi.

Godaan citra demikian, menumbuhkan para politikus yang cinta akan uang rakyat. Bukan memberikan hak rakyat yang seharusnya Ia kelola secara humanis.

Para pemilih yang tertipu dengan rekayasa penilain publik demikian, hanya bisa menyaksikan orang yang pernah dipilih menggunakan seragam orange, sebuah derajat kerendahan dalam sistem sosial di Indonesia.

Dalam psikologi warna yang dipublish oleh goodminds.id warna orange untuk memperingati kenangan manis yang pernah dirasakan, karena dahulu tipikal orang seperti ini mampu menarik perhatian orang lain tanpa adanya intimidasi.

Leave a Comment.