Dari Bencana Alam Sampai Bencana Komunikasi

WWW.SIRAJULFUADZIS.COM,- Bencana alam banjir yang menimpa Jakarta tepat pada awal tahun baru 2020, menjadi duka bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Banjir yang terjadi dapat disaksikan oleh masyarakat Indonesia, betapa tinggi dan derasnya laju air menyebabka mobil hanyut, rumah tenggelam.

Jakarta dikepung banjir, musibah ini diawali pada awal tahun yang ditandai hujan sebelum pergantian tahun 2019 ke tahun 2020. Berbagai video, foto dan sejumlah peristiwa viral berkaitan dengan banjir. Kecenderungan ini kerap terjadi di era media baru saat ini, kerap membuat dunia media heboh dengan berita banjir yang tidak biasa. Bahkan ramai diperbincangkan netizen ada mobil BMW hanyut terbawa arus banjir dan tersangkut di sebuah batang pohon.

Ratusan mobil hanyut dan rusak parah, ribuan rumah berantakan setelah diterjang banjir. Tentu saja ini duka mendalam bagi rakyat Indonesia, kerugian material terhadap barang berharga, dokumen-dokumen penting termasuk Ijazah.

Bencana tersebut bagaikan alarm bagi warga Jakarta, untuk selalu menjaga kebersihan untuk membuang sampah pada tempatnya. Kali, goro-gorong, tempat umum, lingkungan masyarkat bukan tempat pembuangan sampah. Karena perilaku manusia yang membuang sampah sembarangan, alam akan mengutuk perilaku yang dapat menyangsarakan orang banyak.

Tertib Buang Sampah

Tertib membuang sampah adalah salah satu solusi mengedukasi masyarakat, untuk bekerjasama mengkampanyekan aksi buang sampah pada tempatnya. Kesadaran ini yang perlu ditanamkan sejak dini, kebiasaan membuang sampah dengan benar.

Fenomena yang penulis lihat di lapangan, warga jauh kesadarannya untuk menjaga alam saat kampanye pemilihan presiden jutaan sampah bertebaran di lokasi kampanye, orang yang sedang berada di dalam mobil mewah juga seenaknya membuang sampah ditengah jalan.

Artinya masih ada segelitir masyarakat yang belum paham, kenapa alam juga ikut mengutuk manusia lewat banjir. Wujud banjir terjadi karena banyak hal yang tersumbat di dalam tanah saat air hujan deras.

Hal seperti ini dimulai dari lingkungan kecil mempunyai kesadaran membuang sampah, dari diri sendiri diterapkan di lingkungan keluarga, kemudian dilanjutkan di tingkat masyarakat. Hal kecil ini sangat berharga dibandingkan kritik pedas kepada sejumlah orang.

Peran Media Baru

Pada era meda baru saat ini, sudah banyak beredar berita seputar banjir dari akun-akun  media sosial yang dibuat oleh konten kreator. Mulai dari judul, isi konten peristiwa yang memberitakan seputar banjir menurut pemahaman mereka masing-masing. Sehingga banyak berita yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia umumnya, dan juga dari mancanegara.

Terkadang kandungan berita yang disebar adalah konten provokativ untuk membenci dan menyalahkan salah satu pihak. Pada momentum banjir awal tahun, Anies Baswedan di bully oleh warga lewat status, postingan konten yang diunggah lewat media sosial dan juga di Whatsapp Group (WAG).

Sehingga peristiwa banjir ini tidak hanya sekedar duka dalam dunia sosial, tetapi juga berali menjadi duka yang hangat di dalam ranah virtual. Ini bencana yang ditipa bencana, kerap warga yang bukan berasal dari Jakarta pun ikut berdebat terkait banjir. Korban maupun bukan korban banjir, bisa menyampaikan berita-berita yang sesai dengan pendapat yang mereka diterima dari berita.

Hal seperti ini yang akan memudarkan rasa persaudaraan saat bencana menimpa, terbitlah bencana virtual yang menjauhkan dari rasa kepeduliaan. Seharusnya dalam duka bencana, netizen harus mengerti apa yang mereka sebar bisa menjadi masalah besar untuk menjauhkan orang yang berseberangan dalam pemikiran. Penulis menyebut peristiwa ini dengan bencana komunikasi.

Bencana Komunikasi

Bencana Komunikasi hadir ketika saling menyalahkan antar pihak warga Jakarta, ada yang menyalahkan Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta, ada yang menyalahkan masyarakat, ada yang menyalahkan, bahkan perantau asal daerah lain pun ikut menyalahkan sistem pemerintahan provinsi yang menjurus kepada sosok Anies.

Perpindahan bencana dialihkan ke dunia virtual, di mana setiap orang yang diizinkan dapat berkomentar pada akun yang menyebarluaskan berita yang diam-diam bekerja mengujar kebencian (hate speech).

Bahkan netizen ada yang rela mencari lama untuk membunuh sosok seorang Anies, proses penyebaran dan informasi yang tidak terataur ini menimbulkan bencana komunikasi beredar. Kemarahan, kebencian, pun muncul dan cepat berkembang di area virtual.

Saat bencana alam datang, harusnya netizen saling tolong menolong membantu korban bencana, nyatanya hal itu ditunjukkan oleh orang-orang yang punya rasa kemanusiaan tinggi, pekerja on Goverment Organizations (NGO) yang fokus dalam tanggap bencana.

Ini harus bisa menjadi pelajaran berharga, bahkan bencana komunikasi tidak dapat dibendung meskipun duka lara masih berlangsung.

Leave a Comment.