Komodifikasi Agama Dalam Industri Kreatif di Indonesia

WWW.SIRAJULFUADZIS.COM, – Industri kreatif merupakan sarana unggulan menyampaikan ekspresi, opini dan menyiarkan pesan-pesan kepada masyarakat Indonesia. Industri kreatif tidak lepas dari kegiatan kreatif terkait dengan produksi video, fotografi, distribusi rekaman, desain, dan media-media yang bisa mendistribusikan film dan event-event yang melibatkan unsur Agama.

Komodifikasi Semakin Luas Komandan

Komodifikasi menurut Vincent Mosco merupakan sebagai proses mengubah barang dan jasa termasuk komunikasi yang dinilai dari kegunaanya, menjadi komoditas yang dinilai karena apa yang mereka berika di pasar.

Agama merupakan salah satu yang mempunyai nilai-nilai kepercayaan sacral terkandung dengan keyakinan manusia dengan Pencipta.

Kini Agama dalam komodifikasi isi konten diperjualbelikan oleh kapitalis yang punya kekuatan untuk menyebarkan pesan. Secara ekonomi, berdampak kepada ekonomi kapitalis yang mendapatkan keuntungan dari penjualan berupa film atau event.

Diantara komudifikasi agama yang berada pada wilayah industri kreatif film bernuansa Agamis adalah fil Merah Putih, Sang Pencerah, Darah Garuda, Habibie & Ainun, Soegija, Soekarno : Indonesia Merdeka, Sang Kiai, Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, Di Balik 98, Guru Bangsa Tjokroaminoto, Jendral Soedirman, Surat dari Praha dan yang terbaru adalah The Santri.

Bahkan fenomena penjualan nilai agama tersebut bahkan dijual oleh orang yang buka asli dari agamanya sendiri. Tapi dengan ide dan gagasan yang dipunya oleh para konten kreator, produser, sutradara bisa memainkan peran sebagai kapitalis industry kreatif.

Seperti kasus film The Santri, yang menngkat nilai-nilai kaum sntri dan tradisi pembelajaran di pondok pesantren yang berbasis kemandirian kesederhanaan, toleransi serta kecintaan terhadap tanah air (cnnindonesia.com).

Film tersebut menuai protes dari berbagai kalangan, karena ada adegan putri kandung Yusuf Mansur yang terlibat masuk ke dalam sebuah Gereja membawa tumpeng.dalam trailernya yang telah diunggah di Youtube, tampak dua santriwati membawa tumpeng mendekat kearah salah satu pemuka Agama kemudian mengucapkan selamat ulang tahun.

Cuplikan ini menggabarkan toleransi Bergama antara muslim dengan penganut kristiani, secara konten hal ini ditayangkan dalam wilayah tempat Ibadah umat Kristen. Adegan tersebut mendapat banyak kritikan dari tokoh Agama Islam.

Bahwa tidak seharusnya toleransi sosial dan Agama dapat disamaratakan, tentu sikap-sikap toleransi bisa dipilah dan dipilih dengan memahami dengan baik.  Film tersebut disutradarai oleh Livi Zheng dan Ken Zheng.

Akibat komudifikasi agama ini, sejumlah tokoh agama saling menujukkan argument dan dalil yang benar menurut pemahaman mereka. Perilaku kapitalis tidak memandang hal yang demikian, mereka fokus dengan sederetn keuntungan yang akan mereka raih.

Belajar dari hal demikian, bahwa media komunikasi telah mengantarkan penyebaran opini, propaganda, peperangan lewat dunia film. Seperti yang di samapaikan oleh Taurus.

Leave a Comment.