Komunikasi Interpersonal di Era Milenial

SIRAJULFUADZIS.COM-Berada dalam ranah lingkungan sosial, membuat manusia tidak bisa menghindari sebuah komunikasi yang menghasilkan tujuan-tujuan tertentu sesuai harapan awal. Pada tataran kelas sosial membuat manusia harus bisa beradaptasi dan memahami cara-cara berkomunikasi yang harus dipakai ketika berhadapan dengan lawan bicara. 

Beda lawan bicara akan berbeda pula cara berkomunikasi atau perlakuannya. 

Berbicara terkait komunikasi era milenial yang sedang tenar pada saat ini. Saya mengamati ada bentuk-bentuk komunikasi interpersonalyang sudah berubah arah pada pemahaman makna, emosional, perilaku, etika dan cara penyampaian pesan yang tidak biasa dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini. 

Ketika saya bertanya kepada beberapa orang teman terkait permasalahan komunikasi interpersonal saat ini memang memiliki hawa yang berbeda.

Namun dengan adanya masalah sosial yang baru ini apakah kita patut menyalahkan kehadiran teknologi, keadaan dan semua yang terkait dengan perubahan komunikasi? Tentu saja tidak. Hanya saja bagi kaum muda perlu diperhatikan terkait etika-etika yang harus dibangun ketika berkomunikasi secara interpersonal. 

Dalam beberapa teori yang pernah saya baca tentang komunikasi interpersonal yaitu sebuah komunikasi yang dilakukan oleh dua orang bertatapan secara langsung. Jika digunakan pada era milenial ini, ada komunikasi interpersonal yang sudah canggih. 

Di era sekarang, tanpa harus bertatap muka, seseorang dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan aplikasi media sosial yang menghubungkan dua orang dengan sambungan tertentu.

Bersama Bapak Djarot Kusumayakti (Dirut Bulog)Kehadiran teknologi, membuat kajian komunikasi menjadi luas dan banyak makna yang harus dipelajari kembali. Pemahaman-pemahaman dalam komunikasi interpersonal yang konvensional, bisa bertatap muka, memahami gesture, sikap dan sifat lawan bicara secara langsung. 

Namun bagaimana apabila komunikasi interpersonal yang dibangun melalui jaringan media sosial dapat menangkap gesture atau sikap lawan bicara secara langsung? Tentu saja tidak. Apakah yang anda merasakan peran ganda yang bermain dalam diri? Ketika mengirimkan simbol senyum wajah anda pada riilnya tidak tersenyum atau datar.

Komunikasi yang disampaikan memiliki makna yang sempit, terkadang menjadi sebuah problematika sosial dalam tatanan birokrasi, pengambilan kebijakan, kesalahan emosional, pemutus hubungan komunikasi interpersonal, permusuhan, kesalahan makna. 

Permasalahan yang serupa juga menjadi sebuah tren pada percintaan yang dibangun dalam media sosial. Banyak sekali anak muda putus cinta sampai gantung diri, hanya karena salah makna dalam berkomunikasi. 

Bagi semua orang yang melihat kasus ini menilai orang yang demikian pasti konyol, seperti tidak ada laki-laki atau perempuan yang lain saja. Tetapi bagi mereka yang menjalani percintaan tentu saja tidak konyol, bahkan dinilai sebuah kesakralan dalam mencintai pasangan. 

Saya sebagai orang yang mengamati permasalahan percintaan teman-teman sekitar, kebanyakan dari mereka putus dan tidak berkomunikasi kembali diakibatkan karena selama ini menjalani hubungan dan berkomunikasi melalui peran-peran teknologi. 

Sementara sangat jarang ditemui pasangan yang selalu menyempatkan diri untuk bertemu dan saling berkomunikasi dengan tatap muka mengalami keretakan hubungan hingga berujung putus. 

Sekarang coba kita ambil contoh kecil dalam berkomunikasi dalam melakukan komunikasi interpersonal secara langsung dan tidak langsung. Ketika berkomunikasi secara langsung, saya bisa menangkap emosi, kejiwaan seseorang dalam menyampaikan pesan, saya bisa mengerti ketika saya mendengarkan mereka berbicara sampai selesai. 

Saya saat ini sudah mulai bejalar untuk tidak lagi memotong pembicaraan lawan bicara agar tidak terjadinya salah tangkap makna yang tidak diinginkan. Begitu juga saya tidak pernah cengengesan, senyum terus menerus ketika berkomunikasi dengan lawan bicara atau dengan ekpresi sedih terus menerus atau pun mengatakan ke lawan bicara ‘haha” “hehe” “wkwk” ckckc”. Berbeda dengan saya yang melakukan komunikasi interpersonal secara tidak langsung atau menggunakan media sosial. 

Saya berkomunikasi dengan bahasa tulisan verbal yang singkat dan terkadang suka senyum-senyum saja kemudian orang yang menerima pesan juga membalas dengan senyum-senyum juga. Tetapi sejatinya saya tidak paham kenyataan lawan bicaran saya benar-benar senyum atau tidak.

Pada tahap komunikasi dosen dan mahasiswa menggunakan media sosial menjadi hal yang menarik, saat ini untuk mengantur janji bertemu, sebagian dosen lebih senang berkomunikasi dengan media sosial. 

Nah mahasiswa bisa saja menyesuaikan dengan gaya apa dosen tersebut bisa dihubungi, ini terjadi apabila ada tugas harian, mingguan, bahkan pada tahap bimbingan skripsi. 

Ada beberapa teman saya yang menangis, bingung karena pesan yang mereka kirimkan kepada dosen hanya dibaca (read) atau malah hanya sekedar dibalas “Y”, “YA”, “TIDAK”, “Simbol Jempol”, “OK”, kenapa tidak sekalian. “Baik saya tunggu di ruang dosen.”

Mahasiswa yang menyusun kalimat panjang kali lebar untuk dosen pun hanya dibalas dengan perlakuan dan sikap yang demikian. Ingat hal ini yang saya amati  dari pengalaman pribadi dan hanya sebagian dosen saja. Untuk menyikapi balasan dosen yang demikian, mahasiswa hendaknya selalu berbaik prasangka saja. Itu lebih baik dari pada uring-uringan tidak jelas, galau tidak jelas. 

Saran saya ketika anda sudah pada tahap tidak sabar untuk bertemu, beranikan diri anda untuk langsung mendatangi dosen yang bersangkutan, menunggu dosen  dan sampaikan tujuan anda secara sopan dan santun, tapi ingat perhatikan juga etikanya, jangan tiba-tiba anda mendatangani rumah beliau secara langsung tapi izin terlebih dahulu.

Sebaliknya ketika seorang dosen tidak mau menggunakan media sosial sebagai sarana mempermudah komunikasi dengan mahasiwa, ada baiknya ungkapkan saja secara langsung kepada mahasiswa, bahwa dosen dapat di temui di kantor pada jam dan tempat biasa yang digunakan untuk bekerja. Tinggal mahasiswa yang menyikapi keadaan dosen.

Namun, sekali lagi etika juga perlu dikedepankan. Bila dosen sedang makan siang pada jam istirahat, anda tiba-tiba datang begitu saja saat dosen sedang makan, dosen mana yang tidak kesal. Kemudian dosen yang sedang ada kesibukan lalu kemudian anda tiba-tiba saja untuk bimbingan. Anda juga harus cerdas membaca kahanan (keadaan). Apabila anda menempatkan kahanan berarti telah menghargai waktu dan diri orang lain. Meskipun juga kalau dihitung-hitung mereka punya tanggung jawab bertemu anda. 

Namun, sudah seharusnya juga dosen menghargai pesan yang dikirimkan oleh mahasiswa dan sedapat mungkin membalasnya karena mereka juga punya kebutuhan dan ketergantungan terhadap anda. Sehingga implikasinya juga untuk dosen ke depan, dosen tersebut akan mendapat citra sebagai dosen yang baik di mata mahasiswa atau malah sebaliknya.

Dosen juga harus memahami dalam menggunakan komunikasi interpersonal bahwa kehidupan yang dijalani sehari-hari untuk menghidupi anak dan istri atau suami berasal dari uang pendidikan yang didapatkan. Pendapatan tersebut menjadi lebih berkah apabila menghargai etika-etika berkomunikasi dalam proses akademik. 

Begitu juga ketika adanya percakapan yang bumbui dengan kata-kata abstrak “wkwkw” menjadi sebuah makna yang universal. Bisa menertawakan, bisa menghibur, bisa bermakna ganda yang tidak ada di dalam kamus bahasa Indonesia. 

Permainan simbol ketika berkomunikasi pada media sosial juga menjadi bahan yang bisa menggelitikkan senyum di wajah, membuat orang menangis tersedu-sedu, membuat orang galau putus asa. 

Banyak sikap yang telah dihasilkan oleh pesan-pesan yang sempit makna tanpa tatap muka. Ada juga kasus komunikasi interpersonal dalam media sosial yang tidak sesuai dengan latar belakang orang yang diajak berkomunikasi. 

Ketika komunikator mengajak bercanda, komunikan sebagai penerima pesan tidak menerima hal tersebut menjadi sebuah candaan, apalagi ketika saat itu juga secara psikologis lawan yang diajak bercanda sedang ada masalah besar dengan keluarga, teman, pasangan, atau pun masalah ekonomi yang tidak diketahui komunikator. Serba salah ini dapat memancing kesalahpahaman dari yang awalnya niatnya saling menyapa, menjadi saling menyalahkan.  

Komunikasi interpersonal pada era milenial sudah sepatutnya dijadikan bahan renungan yang patut direfleksikan dalam tatanan kelas yang bisa dinilai kurang baik. 

Sebagai makhluk sosial, tanggung jawab bagi orang yang mengetahui seluk beluk komunikasi interpersonal harusnya menginformasikan, mengingatkan kepada saudara-saudara yang kita sayangi untuk selalu berhati-hati ketika melakukan komunikasi interpersonal. 

Saya sebagai penikmat teknologi sangat bersyukur dengan hadirnya komunikasi interpersonal tanpa tatap muka atau juga bisa tatap muka dengan aplikasi video call dengan siapa pun dan dimana pun saya mau. Namun saya juga merasakan kesedihan dalam dunia komunikasi era milenial ketika makna yang ditangkap menjadi tidak sempurna yang mengakibatkan gagal paham berkomunikasi. 

Bayangkan, ketika berkomunikasi secara langsung saja masih banyak terjadinya gagal paham, apalagi dengan pesan-pesan singkat yang belum selesai dilontarkan secara keseluruhan karena dalam proses pengetikan oleh komunikator, komunikan sudah langsung saja bertanya A sampai Z, bahkan permasalahan yang sedang dibahas bisa menjadi dua sampai tiga topik, keren bukan.

Pada proses ini dibutuhkan sebuah konsep komunikasi interpersonal dalam hal bertatap muka secara langsung dan tidak langsung sebagai solusi terhadap kesalahan komunikasi yang ada. 

Saya memanggil hati nurani pada akademisi, mahasiswa, terkhusus bagi akademisi dan mahasiswa komunikasi yang ada di Indonesia mari kita cari solusi yang tepat untuk problematika yang merusak diri, hilangnya pertemanan, dan tidak memiliki komunikasi yang efektif.

Sementara ini, saya sebagai mahasiswa ilmu komunikasi yang tertarik pada kajian-kajian komunikasi memiliki beberapa penganggulangan dalam berkomunikasi secara langsung. Pertama, perhatikan secara emosional lawan bicara yang sedang anda ajak berinteraksi dalam keadaan positif, netral atau malah negatif. 

Kedua, dengarkan lawan bicara sampai selesai berbicara baru merespon (atau anda bisa menganggukkan kepala jika setuju dengan apa yang mereka katakana). Ketiga berikan kehangatan komunikasi, tatap mereka yang menandakan anda benar simpati dengan ceritanya. Keempat sebut nama lawan bicara karena dengan demikian mereka merasa penting bagi anda.

Kelima, dalam arus pembicaraan yang sensitif, di mana anda sebenarnya tidak setuju coba untuk netralkan ego untuk tidak melawan, selalu tunjukkan simpati. Jika mau mengungkapkan pendapat yang berbeda, boleh saja dengan cara yang lembut dan perhatikan kalimat-kalimat yang digunakan. Keenam, temukan satu ilmu dalam komunikasi interpersonal yang pernah anda bangun dengan setiap orang.

Sedangkan penanggulangan dalam berkomunikasi di media sosial. Pertama, pahami secara yakin sikap dan lihat gaya pesan yang masuk kepada anda. Kedua, berikan respon yang netral kepada lawan bicara anda. 

Ketiga tentukan sikap anda untuk membalas pesan-pesan mereka atau kalau mau langsung saja untuk mengirimkan voice note atau lakukan video call jika anda mempunyai paket yang lebih untuk memperjelas apa yang anda maksud. 

Keempat, perhatikan etika sesuai dengan karakter lawan bicara. Kelima, apabila anda merasa anda kurang pas ketika berkomunikasi dan emosional, saya sarankan tidak membalas pesan lawan yang diajak bicara. Kenapa harus dihentikan? karena semakin gencar anda membalas serangan-serangan kalimat pancingan demi pancingan akan membuat hubungan anda dengan rekan rusak. 

Berikut beberapa karakter manusia yang akan membahayakan anda berkomunikasi dengan orang-orang di dalam media sosial, mereka adalah orang yang tidak cerdas dalam mengelola emosi, moody, pendendam, bawa perasaan (BAPER), orang iri, orang yang tidak senang melihat orang bahagia, bodoh, tidak berwawasan luas, fanatik, pendidikan rendah dan orang-orang yang menurut perasaan (feeling) anda tidak tepat untuk selalu berhati-hati mengambil sikap.

Leave a Comment.