Komunikasi Milenial dan Gen Z di Era Digital

WWW.SIRAJULFUADZIS.COM, – Kemajuan teknologi hadir untuk mempermudah komunikasi, hal ini ditandai dengan perangkat ponsel pintar (smarthphone). Aplikasi, akses internet yang mudah dan antusias masyarakat menggunakan media baru berbasis online di era digital.

Banyak keuntungan dengan hadirnya teknologi dalam membantu berbagai hal, salah satunya memudahkan koneksi tanpa ruang dan waktu yang bersifat dinamis. Teknologi menjadi sarana yang mengantarkan pesan-pesan komunikasi berbasis virtual dari satu orang ke orang lain difasilitasi oleh internet.

Milenial dan Gen Z juga memanfaatkan jaringan internet sebagai lini bisnis, menyampaikan ekspresi, menciptakan eksistensi diri, menuangkan ide-ide kreatif dan beragam kegiatan positif lainnya dari dampak kehadiran internet dalam satu perangkat digital yang telah disediakan oleh kapitalis.

Teknologi perlahan mencoba merubah cara hidup manusia secara umum, bahkan sampai kepada internet menjadi kebutuhan pokok dalam bekerja, menyampaikan informasi, dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Aktifitas tersebut dilaksanakan dengan gawai yang menyediakan aplikasi-aplikasi yang bisa digunakan oleh pengguna akun untuk melakukan interaksi virtual, kita sebut sebagai media baru.

Pengguna media baru online, digunakan oleh berbagai kalangan seperti akademis, pejabat, wiraswasta, masyarakat umum generasi milenial dan Gen Z. Proses komunikasi penggunaan berbasis internet ini tren dalam lingkungan komunikasi milenial dan Gen Z, tentu juga berdampak kepada perilaku mereka berkomunikasi dalam kehidupan sosial.

Media baru yang kami maksud adalah media sosial, game online, dan aplikasi yang dapat terhubung dengan akses internet digunakan oleh milenial dan Gen Z di Kota Padang. Bahkan saat ini, dalam dunia belajar mengajar juga menggunakan koneksi yang terhubung ke internet, mewarnai sistem pendidikan saat ini.

Menangkap wajah komunikasi milenial dan Gen Z, yang erat kaitanya dengan jaringan internet terjadinya pergeseran dalam dinamika kehidupan sosial terkait etika, sopan santun dan cara berkomunikasi yang berubah signifikan.

Kami melakukan observasi, terkait interaksi pengguna ponsel pintar dalam komunikasi interpersonal secara langsung di Kota Padang, mengamati adanya perubahan cara berkomunikasi interpersonal setelah dan sebelum hadirnya teknologi media baru tersebut.

Fenomena ini berkembang, saat pengguna gawai melakukan komunikasi tatap muka menjadi jarang. Saat ini fisik mereka bertemu, tetapi tidak melakukan komunikasi tatap muka (face-to-face) dengan optimal.

Secara sadar, kita terlibat dalam dinamika kehidupan bagaimana internet hadir sebagai kebutuhan. Dalam hal ini, kita mencoba melihat fenomena ini dengan melepaskan berbagai asumsi dan pengalaman pribadi terkait komunikasi di era digital, serta melihat bagaimana pengalaman milenial dan Gen Z dilapangan.

Seringnya bersentuhan dengan gawai membuat manusia ketergantungan, sehingga menyampingkan etika komunikasi tatap muka antar manusia. Keringnya etika sudah mulai dirasakan, dengan tanda manusia jarang berinteraksi secara tatap muka.

Seperti dua orang Gen Z yang pernah kami  wawancarai terkait komunikasi yang lebih suka digunakan, mereka mengaku lebih menyukai bermain gawai dibanding berinteraksi tatap muka (langsung).

Di sebuah sudut Kota Padang, kami duduk dengan dua adik yang masih kecil. Kami juga menyempatkan untuk bertanya suatu hal yang sudah lama membuat resah, saat ini kecenderungan milenial dan gen Z lebih memilih menggunakan gawai dibandingkan berkomunikasi dengan manusia. Melihat fenomena orang sibuk “nunduk” berselancar dalam dunia maya.

Kami bertanya kepada mereka, hai adik lebih suka berinteraksi dengan manusia atau lebih suka bermain handphone/gawai?. Dengan lantang dua adik yang masih kecil-kecil menjawab, mereka lebih suka main gawai.

Kenapa adik lebih suka bermain gawai?, karena gawai lebih asyik ga bosenin, manusia kalau diajak ngomong udah ga nyambung. Kami semakin penasaran, bertanya lebih mendalam terkait kehidupan mereka dengan keluarga. Kalau adik diberi kesempatan untuk memilih antara Ibu dengan gawai, mana yang lebih kalian pilih? Mereka menjawab gawai.

Sementara itu, kami juga bertanya kepada Ibu dari Anna (bukan nama sebenarnya), Anna seorang Gen Z yang sudah menggunakan gawai dan mengakses aplikasi Youtube.

Ibu tersebut menjelaskan perubahan perilaku ketika sebelum dan sesudah Anna mengakses Youtube, sebelum menggunakan gawai bahasa Anna cenderung seperti anak-anak. Sedangkan setelah menggunakan Youtube, secara bahasa Anna punya verbal yang lebih dewasa, selangkah lebih dewasa tepatnya.

Perbedaan tersebut dirasakan oleh Ibu dari Anna dan kami juga menyaksikan bahasa-bahasa yang dilontarkan Anna cenderung bernada seumuran umur (24 tahun).

Kehadiran media sosial juga merubah perilaku anak kecil cepat lebih dewasa, ini dibuktikan oleh sikap Anna. Saat menggunakan gawai, Anna tidak memerhatikan orang yang sedang menyapa dan tidak menganggap keberadaan manusia pada dunia nyata. Berbeda ketika Anna tidak meemegang gawai, Ia aktif mendengarkan dan merespon pertanyaan demi pertanyaan yang kami lontarkan.

Virus kecanduan gawai sudah merasuki generasi Z dalam kehidupan sosial, begitu jauh dari kehadiran manusia sebagai makhluk sosial yang mendampingi mereka sehari-hari. Bahkan mereka rela mementingkan gawai, dibandingkan Ibu yang melahirkan dari kecil, keterangan berikut dapat dibuktikan secara ilmiah dalam wawancara kami yang direkam menggunakan alat perekam dengan adik-adik tersebut, bahwa ada perubahan cara berkomunikasi milenial dan Gen Z di era digital.

Leave a Comment.