Melirik Wajah Digital Indonesia

SIRAJULFUADZIS.COM, – Tak lama ini saya kembali menemukan ketidakseimbangan orang dalam memakai media dengan media yang Ia pakai. Mari sejenak melirik wajah digital Indonesia dalam fenomena penggunaan media dalam kasus terbaru ini.

Singkat cerita, teknologi yang hadir tidak sebanding dengan kemampuan pengguna media yang tak punya literasi dalam pemakaian. Pengguna tersebut menggunakan media facebook sebagai ajang membuka aib orang lain, lebih sadisnya itu bukan yang berkaitan secara langsung dengan konfik dirinya.

Melainkan membuka aib mantan kekasih adiknya, korban tersebut adalah wanita yang mengkhianati cinta adiknya. Ia mempublikasikan foto adegan wanita dan laki-laki lain berpelukan (bisa saja foto sang wanita selingkuh dan mengakibatkan hubungan mereka putus dengan adik pengirim konten) di halaman beranda facebook.  

Bayak netizen mengomentari foto tersebut, karena dilengkapi dengan caption yang menyudutkan sang wanita. Lebih menariknya, wanita yang dipublis fotonya juga ikut meramaikan di kolom komentar. Korban berusaha mengatakan, tolong hapus foto-foto dirinya dan menyatakan bahwa Ia tak punya urusan dengan yang memposting.

Berbagai macam tanggapan dari masyarakat virtual, karib kerabat terhadap citra korban. Seakan korban dipojokkan sebgai wanita jalang yang tak punya harga diri. Dalam kurun waktu sepuluh jam sudah ada sekitar seratus dua puluh komentar dalam koten yang disebarluaskan.

Siapapun bisa menyimpan, mengoleksi dan melakukan screnshoot terhadap konten itu. Bahkan bisa dilaporkan sebagai pencemaran nama baik di dunia maya. Setelah kurang lebih dua puluh empat jam, konten tersebut dihapus oleh yang memposting.

Karena dalam kolom komentar banyak yang meminta untuk menghapus konten tersebut, tak dari korban saja. Melainkan masyarakat yang protes adalah oran satu kampung dengan pengirim konten tersebut ke ranah facebook.

Fenomena ini sering terjadi, karena ketidakseimbangan pengguna yang tak punya edukasi, baru menggunakan dan tak memperhatikan citra dan reputasi orang lain. Perlakuan demikian, tentu tidak patut ditiru, dan dalam dunia virtual harus ekstra lebih hati-hati mengirimkan konten.

Konten yang dikirim ke ranah virtual, merupakan representasi pengguna akun. Semua orang bisa mengetahui watak dan karakter lewat verbal yang bisa dilihat dan diakses publik. Kampanye cerdas menggunakan media sudah banyak digaungkan, tapi tetap saja itu tidak berpengaruh secara signifikan kepada masyarakat menengah kebawah.

Fenomena seperti diatas perlu dikritisi guna menjaga moral dan etika pengguna dalam berselancar di dunia maya. Miris jika ribuan bahkan jutaan orang punya dan karakter yang sama dengan pengirim konten.

Dalam tulisan ini, mengkritisi keras terhadap perilaku yang merugikan reputasi orang lain. Sebab berkaitan dengan harga diri, cara pandang orang lain kepada korban setelah melihat konten yang sudah tersebar luas. Ini menjadi bagian dari rekam jejak komunikasi digital, bagi rakyat Indonesia.

Pengirim tidak mempertimbangkan efek setelah Ia mengirim foto tak senonoh tersebut, sehingga tak hanya merusak citra diri korban melainkan citra dirinya juga ikut berkurang di mata teman, saudara dan karib kerabatnya.

Masih banyak kasus sama dengan berbagai cerita berbeda terjadi di berbagai media, yang merugikan salah satu pihak dan merusak wajah korban di mata orang lain.

Cerdas dalam menggunakan media adalah solusi yang menyejukkan, tak akan menyinggung banyak pihak telebih berhubungan dengan citra diri personal. Dalam penggunaan media usahakan tak sampai membuka aib orang lain ke ranah publik.

Leave a Comment.