Memperkuat Komunikasi Saat Krisis

Oleh : Sirajul Fuad Zis

Ketika masa krisis yang masih berlangsung, peran masing-masing masyarakat sangat penting untuk tetap memperkuat komunikasi. Terlebih masa krisis pandemi covid-19 belum dapat dipastikan kapan berkahir. Kegiatan di rumah saja, seperti belajar dari rumah, bekerja dari rumah, berinteraksi dengan banyak orang dari rumah secara virtual.

Meskipun belum semua masyarakat mengerti, karena mereka punya alasan berbeda untuk tetap keluar rumah. Seperti buruh harian lepas, jika tidak bekerja maka tidak akan mendapatkan kebutuhan pokok untuk bertahan hidup. Melihat dari perspektif yang positif, sebenarnya kegiatan di rumah sudah keputusan yang tepat agar tetap aman. Tidak tertular dan tidak ikut menularkan penyebaran covid-19 dan menyalamatkan nyawa manusia dli luar sana, jauh dari itu ada momen berharga yang harus diabadikan dalam sebuah keluarga dengan memperkuat komunikasi interpersonal.

Komunikasi Dalam Keluarga

Dengan merevitalisasi komunikasi Interpersonal di Rumah, memperbaiki lintas komunikasi yang selama ini terbatas oleh berbagai kepentingan. Bahkan seorang istri, suami dan anak hanya bertemu saat malam dalam waktu yang singkat setelah pulang kerja. Kualitas waktu di rumah seperti ini, perlu dimanfaatkan dengan baik.

Mempertimbangkan ulang, bagaimana komunikasi yang berjalan selama ini dengan kesibukan masing-masing?, terlebih saat ini penggunaan gawai lebih menggoda manusia untuk kecanduan. Sehingga lalai melakukan komunikasi face to face (tatap muka) berkualitas bersama keluarga. Menurut Sri Tunggul Panindriya, seorang dosen LSPR dan praktisi media mengungkapkan pengalaman pribadinya saat  program bekerja dari rumah (Working From Home) Ia makin kenal dengan rumahnya.

Dalam cerita pribadi, diungkapkanya dalam Youtube LPSR Jakarta bahwa Ia sangat jarang berada di rumah saat menjadi praktisi media. Mengakibatkannya jarang bertemu keluarga dan rumah sendiri, sehingga komunikasi diantara keluarga sering tidak jalan. Kalau bertemu sesama anggota keluarga menjadi kaku, dalam komunikasi interpersonal itu berkurang.

Ada hikmah yang menarik dari program bekerja dari rumah, yaitu memperkuat hubungan komunikasi interpersonal dalam keluarga. Ini kesempatan yang baik, untuk saling cerita, berbagi, tertawa bersama dengan keluarga inti. Terlebih memungkinkan lebih sering berkomunikasi tatap muka. Hal lain mungkin curhat apa impian yang masih ingin dicapai, karya apa yang akan digapai kembali, dan melakukan kegiatan-kegiatan positif.

Rumah menjadi sebuah simbol yang diartikan positif, sebagai tempat ketenangan, mencari kedamaian, tempat berlindung. Ini merupkan kemampuan seseorang bagaimana mendefinisikan apa arti rumah baginya. Tentu satu orang dengan orang lain punya persespsi yang berbeda tentang rumah. 

Karenanya, selama program bekerja dari rumah masih berlangsung, mari kembali merawat, memperkuat, merevitalisasi komunikasi suami istri, orang tua dengan anak, dengan mertua, dengan nenek kakek saling menguatkan saat krisis.

Sudah saatnya kita menyeimbangkan  berkomunikasi tatap muka dengan komunikasi virtual, komunikasi virtual yang saat ini tren digunakan masyarakat berinteraksi, bahkan sampai lupa atas keberadaan orang yang sedang berada dilingkungannya.

Lantas bagaimana komunikasi yang terjadi dalam sebuah perusahaan mengelola perilaku dan pikiran karyawan?.

Komunikasi Perusahaan

Dalam rangka menjaga stabilitas perusahaan, karyawan yang bekerja dari rumah. Public Relations atau humas punya peran penting menyampaikan komunikasi persuasif saat krisis agar perilaku karyawan tetap positif.

Dengan memanfaatkan media sosial, humas seharusnya membuat konten-konten ringan. Konten dapat meringkankan tekanan kerja, yang dialami oleh karyawan dalam internal perusahaan. Begitu juga dapat dinikmati oleh pihak eksternal perusahaan terhadap konten yang bermuatan nilai moral, mereka suka, simpan dan bagikan membawa nama perusahaan.

Bukan malah sebaliknya, humas menciptakan konten-konten yang membuat karyawan takut, khawatir dan cemas. Dalam kehidupan masyarakat, kita temui dengan adanya tekanan berita terkait covid-19, juga berpengaruh negatif kepada pribadi penerima, pembaca berita. Misalnya seorang penggiat media sosial, setiap hari mendapatkan berita covid-19 dari status whatsapp, teman kantor, facebook, intagram, twitter dan berbagai media online lainnya.

Setidaknya humas punya cara kreatif, membungkus sebuah konten yang rapi disajikan kepada internal dan eksternal perusahaan. Tindak lanjut dari konten tersebut adalah kampanye yang disampaikan secara strategis kepada publik, ringkas dan mudsh dimengerti.

Bukan rahasia lagi, bahwa kampanye yang mengandung nilai-nilai sosial-kemanusiaan didalamnya berdampak kepada citra dan reputasi perusahaan kedepannya. Secara tidak langsung, humas sedang merawat komunikasi antara perusahaan dengan steakholder. Komunikasi demikian efektif dilakukan saat krisis, dengan mengingatkan kembali kepada publik ada perusahaan tersebut yang siap memenuhi keperluan mereka.

Era disrupsi, di mana ada kekuatan Robot dan Artificial Intellegent (AI) sudah digunakan oleh berbagai perusahaan menggantikan tenaga manusia untuk bekerja. Apakah humas juga akan tergantikan oleh fenomena ini?, jangan sampai ada robot yang bisa menggantikan tugas dan fungsi humas bekerja membangun relasi, menyampaikan informasi jujur dan berlaku baik kepada semua orang. Tetapi tidak ada salahnya humas menggunakan bantuan platform digital, untuk menunaikan kerjanya. Artinya humas harus terus beradaptasi sesuai perkembangan zaman.

Di sinilah peran strategi humas menjadi penting, memperkuat komunikasi dan menjaga nama baik perusahaan. Selain karyawan nyaman bekerja dari rumah, humas bekerja memberikan asupan konten kampanye positif secara berkala, dan tanggungjawab karyawan kepada kantor juga ditunaikan dengan baik, kesehatan mental mereka tetap terjaga setelah krisis, maka terciptalah iklim kekuatan komunikasi yang saling menguntungkan.

Terbit di harianhaluan.com pada 30 Mei 2020

Leave a Comment.