Merindukan Budaya Interaksi Alamiah

WWW.SIRAJULFUADZIS.COM, – Kita sudah merasakan efek budaya dari revolusi digital yang sedang berlangsung, sekitar dua puluh tahun silam seorang ahli dalam (Severin, 2014), pernah menyatakan terkait budaya yang waktu itu mulai berkembangnya internet.

“waktu tiga atau empat jam habis di depan komputer tetapi tidak dengan keluarga, suami/istri, atau masyarakat”.

Semakin jauhnya antar sesama manusia saat bersama secara fisik di era digital, komunikasi tatap muka (face to face) tidak lagi berjalan dengan baik. Keluarga dan rekan-rekan menjadi terasa jauh walau secara wujud nyata mereka dekat, posisi internet lebih menggoda dibandingkan berkomunikasi tatap muka.

Saat makan bersama di meja keluarga, di cafe bersama teman, di dalam kelas, saat mengendarai motor dan mobil, era digital ini cenderung masih ada yang sibuk dengan gadget mereka. Ini pilihan pribadi masing-masing, selagi rasa empati, simpati tetap merdeka.

Fenomena demikian, tentu perlu menjadi kekhawatiran terkait nilai, norma, etika berkomunikasi dan tidak terjadinya perilaku saling menghargai. Sehingga tidak terjadi kesalahpahaman informasi kehidupan sosial dan kurangnya budaya interaksi alamiah.

Siapa yang merasakan rindu dengan budaya interaksi alamiah?, seperti zaman 1990-an masa kecil dahulu. Bermain kelereng, petak umpet, tapak gajah, layangan, gingong dan beragam permainan kuno yang dirindukan kembali.

Leave a Comment.