Pengalaman Magang di Pertamina (Bagian I)

WWW.SIRAJULFUADZIS.COM, – Hei, Perkenalkan nama Saya Raj, Mahasiswa Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja.

Beberapa kampus yang ada di Indonesia ada yang mewajibkan mahasiswanya untuk magang di dunia industri atau kerja. Tujuan ada nya program magang yang diwajibkan oleh kampus adalah untuk membangun personality seorang  mhasiswa menyiapkan mental untuk dunia kerja.

Pada kesempatan ini saya akan bercerita pengalaman saya magang mulai dari awal berangkat dari kota saya kuliah sampai ke kota tempat saya magang. Kisah magang saya ini tidak ada unsur fiktif dan kisah yang dibuat-buat. Kosah ini akan dibagi menjadi beberapa Part.

Part I

29 September 2017

Subuh itu kota Yogyakarta masih sejuk dan dingin, sekitar jam 05:00 saya bagun dan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke Jakarta. Saya hidupkan motor jagoan Supra X 125 D yang berwarna hitam dan coklat, setelah jagoan terasa sudah sanggup berjalan saya dan seorang teman membaca bismillah untuk pertama kali perjalanan terjauh bagi saya menggunakan motor demi sebuah magang. Seorang teman tersebut bernama Purnomo, saya ucapkan terima kasih telah menemani perjalanan magang saya ke Jakarta. 

Kami berangkat pada subuh hari, jalan masih sangat sepi, saya melewati Kabupten Purwerjo, Kabumen, Cilacap dan masuklah pada wilayah Jawa Barat, seingat saya kami sampai di Tasikmalaya sekitar jam 11:00, sesampai di Kota Tasikmalaya perut terasa lapar karena sewaktu kami tidak sarapan sama sekali. 

Perasaan pertama ketika perut lapar adalah Rumah Makan Padang, maklum saya adalah seorang Minang yang fanatik terhadap cita rasa makanan tradisional Minangkabau. Motor yang saya kendarai dengan kecepatan 80-100/km, terasa ketika mengendarai motor bibir saya ke atas kebawah melawan angin, akhirnya saya putuskan untuk menggunakan masker. 

Dalam perjalanan saya ke Jakarta, yang mengandarai motor hanya saya tanpa bergantian dengan Purnomo, meskipun beberapa kali Purnomo menanyakan apakah saya mau digantikan. Perjalanan ini kedua kalinya bersama Purnomo yang saya amanahkan untuk menjadi navigator dalam rangka agar saya fokus dalam mengendari tanpa ada kesibukan mencari arah jalan yang membahayakan perjalanan. 

Perjalanan kali ini adalah perjalanan kedua saya bersama Purnomo yang sebelumnya pernah melakukan perjalanan nekat menggunakan motor astrea 800 yang sudah kuno, umur motornya lebih tua dari Papa saya dan tanpa lampu, uniknya kami di perjalanan sekitar jam 01:00 malam dari Purbalingga dan sampai di Yogyakarta subuh tanpa penerangan.

Bersama Vespa Mania

Bersama Vespa ManiaSetelah kami makan nasi Padang dengan lahap di kota Tasikmalaya, merasa nasi yang di perut sudah mulai turun. Kami lanjutkan perjalanan ke daerah Bandung yang masih berjarak sekitar 3 jam lagi. perjalanan dari Tasikmalaya menuju Bandung benar-benar memaparkan keindahan alam terutama sebelum masuk ke Kota Bandung. Kami sempatkan berfoto ria dengan para Vespa Mania yang juga ingin menuju daerah Jakarta. Pada jam 14:00 kami sudah sampai di Kota Bandung.

Saya awalnya sudah berniat untuk mampir dahulu di Kota Bandung, karena saya punya banyak teman di Bandung. Saya heran, kenapa perjalanan yang sejauh itu tidak membuat saya lelah sedikit pun. Kami isitirahat di kos seorang teman saya,  dengan berbagai pertimbangan saya dan Purnomo memutuskan untuk besok saja ke Jakarta berhubung masih ada satu hari lagi sebelum saya masuk magang di Perusahaan Dunamis (sebuah perusahaan yang berbasis training untuk perusahaan lain). 

Terowongan bandung

Terowongan bandungSewaktu itu sudah magrib di Kota Bandung, saya mendapat kabar dari Ayah Angkat saya yang di Jakarta, bahwa saat itu Dunamis dengan keputusanya cepat merubah saya tidak dapat magang di perusahaan tersebut. Sesuai surat yang saya ajukan, saya akan masuk pada tanggal 01 Oktober 2017.

Sebenarnya saya sempat agak berat mendengar berita tersebut, bagaimana tidak saya kan masuk dua hari lagi tiba-tiba perusahaan tersebut memberi kabar yang kurang baik bagi saya. saya coba bersikap tenang dan selalu berdoa agar saya mendapatkan tempat magang yang terbaik di Jakarta. 

Saya selalu konsisten dengan keinginan saya hanya mau magang kalau di Jakarta saja, dengan tujuan agar saya tidak sekedar magang yang main-main, sekedar memfotocopi dokumen, mengangkat telfon dari steakholder. Malam itu saya beristirahat dengan hujan yang sangat deras dan membuat saya nyaman tidur.

Teman-teman bandung Yang Menyambut saya (Manaf, Purnomo, Raj, Khalis, Wahyu)

Teman-teman bandung Yang Menyambut saya (Manaf, Purnomo, Raj, Khalis, Wahyu) 30 September 2017

Saya di Puncak Bogor

Saya di Puncak BogorPerjalanan kembali saya mulai pada subuh hari dari Bandung menuju Jakarta. Perjalanan dari Bandung tanpa kepastian tempat saya magang, saya hanya berusaha fokus dan mencoba untuk tawakal, karena saya sudah berada di seperempat perjalanan lagi sudah tiba di Jakarta. Jalan yang kami pilih untuk perjalanan yaitu melewati Kota Bogor, saya dan Purnomo sambil reakreasi ke Puncak, berfoto ria dan menikmati rintik-rintik hujan Bogor. 

Perjalanan ke Bogor, sehubung mempunyai teman yang baik, saya juga mampir ke kosnya terlebih dahulu waktu itu hujan deras seakan alam tidak berdamai dengan kami. Istirahat yang cukup di kosnya, kemudian kami memutuskan untuk mencari makan malam di sekitar kota Bogor. Makan malam saya di Bogor, di traktir oleh teman dan ia kepada kami berpesan agar selalu berhati-hati di perjalanan ke Jakarta. 

Bersama Rudi di Kota Bogor

Bersama Rudi di Kota BogorSetelah adzan isya, kami kembali memacu perjalanan menembus hujan yang sangat deras. Navigator saya berikan android Samsung A3 yang terkenal anti air, ya kebetulan saya bisa membeli android tersebut dengan uang penelitian yang saya dapatkan satu minggu sebelum berangkat. Kami berjalan merangkak dalam kemacetan kota Bogor, namun sesampai di Depok jalan sudah mulai sepi, dan perjalanan begitu enjoy sampai di Salemba.

 Tempat tujuan saya untuk menginap dan akan tinggal selama magang. Rumah di Salemba merupakan punya ibu dari ayah angkat yang saya dapatkan sewaktu kelas 3 SMA. Saya sampai di Salemba pada pukul 23:00. Malam itu perjalanan yang indah, hiasanya adalah rintangan lika liku perjalanan sejak dari Kota Yogyakarta menuju Jakarta. Ketika mengisi bahan bakar, saya kadang mengisi premium, kadang pertalite dan juga pertamax.

Setelah saya hitung biaya bensin selama perjalanan saya Yogyakarta-Jakarta hanya menghabiskan uang sekitar Rp.120.000. perjalanan menuju magang kali ini yang saya dapatkan adalah semangat dan kekuatan tubuh saya menjalaninya. Saya menganggap perjalanan bukan sebagai beban, namun sebuah traveling yang membuka mata untuk melihat kota-kota cantik yang ada di Indonesia.

Bersambung . . .

Leave a Comment.