Peran Public Relations Dalam Mengatasi Krisis

WWW.SIRAJULFUADZIS.COM,- Komunikasi pembangunan dalam prakteknya juga berhubungan dengan hal-hal yang bersifat emosional, berhubungan dengan manusia secara langsung. Kajian komunikasi pembangunan, juga di dukung oleh aspek psikologi, menganalisa perubahan perilaku dan menganalisa dimensi-dimensi ethos.tiga rangkaian yang punya kesatuan dalam melihat refleksi praktek komunikasi pembangunan yang dilakukan oleh pihak pemerintah atau swasta.

Tujuan komunikasi pembangunan adalah perubahan yang terjadi di lingkungan masyarakat, untu keberhasilan tersebut diperlukan pemahaman tiga yang pemakalah paparakan. Agar berjalannya komunikasi pembangunan yang samapai langsung kepada masyarakat, dengan memahami aspek psikologi, emosional, cara berkomunikasi dengan masyarakat mengikuti zaman.

Makalah ini mengupas diskusi dan analis kasus yang berkaitan dengan proses pembuatan komunikasi, perubahan perilaku yang terjadi setelah kehadiran komunikasi pembangunan yang dilakuka oleh perseorangan maupun dalam bentuk lembaga.

Komunikasi pembangunan mengandalkan kekuatan komunikasi, sehingga pesan-pesan yang disampaikan kepada khalayak yang ditargetkan bisa efekstif sampai dan terjadi perubahan perilaku sesuai dengan strategi yang telah dibuat. Dalam mempelajari komunikasi pembangunan, maka diperlukannya mempelajari ilmu lain seperti psikologi. Psikologi memliki peran penting dalam proses komunikasi pembangunan. Beberapa aspek psikologi yang sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan proses komunikasi pembangunan, beberapa diantaranya adalah intelegensi, sikap, sasaran, minat, motivasi, dan penetapan sasaran pembangunan.

Selain psikologi, dalam proses komunikasi pembangunan kita juga perlu mencermati perilaku dari sasaran pembangunan kita yang meliputi pemerintah dan masyarakat yang memiliki andil dalam keberhasilan pembangunan itu sendiri. Kemudian agar komunikasi yang terjadi antara komunikator dengan komunikan bisa efektif maka diperlukan sebuah ethos yang memiliki tiga dimensi, yaitu kredibilitas, atraksi dan kekuasaan.

Peran Public Relations Mengatasi Krisis

Pekerjaan PR selalu dihadapkan dengan berbagai pertimbangan dalam mengambil keputusan, terhadap langkah yang seharusnya diambil untuk kebaikan perusahaan. Tentu saja kehadiran PR diharapkan memberikan kesejukan terhadap gebrakan yang menjadi titik penentu keberlangsungan nyawa perusahaan. Kecepatan adalah salah satu unsur komunikasi yang efektif; konten yang kuat dan distribusi pesan yang efektif (Doorley & Garcia, 2007).

Agenda komunikasi perusahaan sebaiknya dikendalikan oleh perusahaan itu sendiri, memberikan informasi cepat secara langsung. PR tidak membiarkan informasi dimainkan oleh tayangan gossip, berita media massa, viral media sosial. Dan tidak membiarkan media, musuh yang akan mengancam posisi perusahaan mengendalikan situasi.

Jangan sampai situasi perusahaan direbut media, kemudia diberitakan berulang-ulang tentang krisis perusahaan. PR berperan mengatur peta permainan, di mana menentukan apa langkah yang diinginkan perusahaan, menentukan apa hasil yang diinginkan perusahaan.

Dalam prakteknya, PR menentukan saluran komunikasi media mana yang cocok digunakan untuk menjangkau masyarakat dengan efektif.

Perusahaan bisa membentuk tim krisis yang melibatkan beberapa unsur dalam perusahaan dalam membantu proses penanggulangan krisis yang sedang berjalan. Sebaiknya tim krisis terdiri dari Presiden Direktur, Public Relations Manager, Kepala HRD dan apabila berkaitan dengan tingkat bahaya bagi para pekerja libatkan safety manager.

Tim krisis ini sebagai penanggungjawab terhadap krisis yang sedang berlangsung, sebagai bagian kolaborasi tim mempertahankan perusahaan dan merubah citra perusahaan berubah menjadi positif. Kunci dari tim ini, sebagai koordinasi dengan jumlah orang yang sangat kecil, berjalannya komunikasi efektif terhadap langkah yang diambil. Kemudian memikirkan dampak besar terhadap langkah-langkah yang telah dirumuskan.

Setelah mendapatkan perumusan permasalahan, apa saja bagian-bagian yang harus dilibatkan seperti bagian media, IT sebagai media komunikasi untuk mengalihkan isu, membuat propaganda, menyebarluaskan opini berdasarkan fakta yang terjadi di perusahaan secara benar, akurat dan cepat. Ini jauh lebih baik dan ditunggu oleh masyarakat, tergantung pendekatan yang digunakan perusahaan menganalisa krisis.

Ada tiga pendekatan yang bisa dilakukan oleh PR dalam situasi krisis adalah sebagai berikut (Nova, 2011) :

  1. Hindari krisis
  2. Tangani krisis
  3. Temukan cara untuk mengubah krisis menjadi sebuah kesempatan.

Ketiga pendekatan ini dilakukan oleh PR setelah mengkaji terkait krisis yang dianalisa sesuai keadaan yang terjadi, pada kategori apa krisis yang dialami dan bagaimana solusi tim krisis menanggulanginya. Komunikasi adalah bagian utama sampainya pesan yang diberikan oleh perusahaan, untuk melakukan klarifikasi terhadap data-data yang beredar di publik.

Steven Fink lebih menekankan agar tim kriris (PR) dapat menjawab pertanyaan berikut dalam hal pencapaian komunikasi dalam keadaan krisis, yang disebutnya sebagai bahan dasar perencanaan manajemen krisis :

  1. Siapa yang bertanggung jawab mengumumkan secara resmi (karyawan, media, lembaga pemerintah).
  2. Siapa pendukungnya?.
  3. Apakah perusahaan/lembaga mempunyai manual mengenai hotline pengendalian rumor?.
  4. Apakah Anda mempunyai rencana manajeman krisis?

Keempat poin ini bisa dikendalikan jawaban-jawaban yang diberikan kepada wartawan dan masyarakat umum dengan memberikan keterangan yang jelas terhadap permasalahan yang dihadapi dengan jujur. Berbeda dengan Rhenald Kasali, lebih singkat dan padat dalam menentukan langkah-langkah yang harus diambil dalam manajeman krisis:

  1. Identifikasi krisis yang sebenarnya
  2. Lakukan analisis
  3. Isolasi kejadian krisis
  4. Bentuk strategi pemecahan
  5. Lakukan program taktis untuk mengontrolnya.

Studi Kasus Krisis Perusahaan

PT. First Anugerah Karya Wisata atau yang  lebih  dikenal  dengan  nama  First  Travel  merupakan  perusahaan  yang  bergerak  di bidang jasa travel umroh. Perusahaan ini berhasil mengambil hati masyarakat khususnya calon jemaah umroh karena tawaran harga yang jauh lebih murah dibanding harga normal. Dalam janjinya, perusahaan ini juga menawarkan kualitas pelayanan yang prima. Hal itulah yang pada akhirnya berhasil menarik minat calon para jemaah umroh untuk menggunakan jasa First Travel sebagai partner untuk beribadah ke Tanah Suci. Sebagai sebuah perusahaan, dapat dikatakan First Travel telah berhasil memanfaatkan peran media sosial sebagai media promosi mereka.

Namun sayang, bendera kemegahan First Travel harus meredup ketika pemberitaan negatif mencuat. Sejumlah laporan calon jamaah yang merasa dirugikan oleh perusahaan, telah menyudutkan pihak First Travel sebagai perusahaan yang lepas dari tanggung jawab.

Opini publik bernada negatif seketika terbentuk. Kasus tersebut pada akhirnya harus dibawa ke ranah hukum. Pihak berwajib ikut turun tangan dengan melakukan pengusutan atas laporan dari masyarakat. Berdasarkan hasil penyidikan  dapat  diketahui  bahwa  dari  72.682  orang  pendaftar,  First  Travel  baru memberangkatkan 14.000 orang jamaah. Sementara sebanyak 58.682 calon jemaah lainnya masih terkatung-katung menunggu kepastian. Adapun total kerugian para korban ditaksir mencapai Rp848.700 Miliar (Afrilia, 2017).

 Sejak munculnya kabar tersebut, nama First Travel seketika ramai diperbincangkan dan menjadi sasaran empuk sejumlah media baik onlinemaupun offline. Dalam kasus ini, penyidik akhirnya menetapkan Direktur Utama First Travel, Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan, sebagai tersangka. Modus dalam kasus tersebut adalah menjanjikan calon jamaah untuk berangkat umrah dengan target waktu yang ditentukan.

Namun hingga batas waktu tersebut, para calon jamaah tak kunjung menerima jadwal keberangkatan. Bahkan, sejumlah korban  mengaku  diminta  menyerahkan  biaya  tambahan  agar  bisa  berangkat.  Dalam pengembangan kasus, polisi juga menetapkan adik Anniesa, Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki  Hasibuan  selaku  Direktur  Keuangan  sekaligus  Komisaris  First  Travel,  sebagai tersangka.

First Travel sudah berusaha melakukan sejumlah kegiatan press release, media relations, klarifikasi dari pihah perusahaan, konferensi pers, mengundang sejumlah media.

Dapat disimpulkan bahwa setiap perusahaan baik yang bergerak di bidang produk maupun jasa sangat mungkin terserang krisis. Bahkan untuk nama perusahaan sebesar apa pun tetap menjadi intaian krisis yang sifatnya tidak dapat diduga kedatangannya. Hal yang perlu diperhatikan adalah memosisikan peran Public Relations secara khusus karena krisis tidak dapat ditangani hanya dengan cara sekejap membalikkan telapak tangan.

Public Relations punya peranan luas dalam mengatasi krisis dengan berbagai strategi yang telah mereka analisa mulai dari mengetahu apa itu krisis, memahami faktor penyebab krisis, memahami tahapan krisis dan yang terakhir adalah peran PR menyelesaikan krisis itu sendiri.

Semua harus melewati proses pendekatan yang baik terkait pihak internal maupun eksternal perusahaan. Pada krisis perusahaan First Travel dapat dikatakan adanya kegagalan dalam  mengelola krisis sehingga perusahaan tersebut bangkrut dan diberikan hukuman oleh pemerintah.  Meskipun pada permulaan kasus First Travel sudah mempraktekkan media relations, mengeluarkan press release, brusaha menenangkan hati para jamaah. Kegagalan  tersebut  dapat  dilihat  dari  langkah-langkah yang diambil oleh First Travel yang tidak dengan segera tanggap terhadap masalah.  

Oleh karena itu, PR harus lebih jeli membaca situasi dan peluang melindungi perusahaan dengan data-data positif, informasi yang akurat dan punya kerjasama yang baik. Dan mengambil keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalah.

DAFTAR PUSTAKA

W. Timothy.  Holladay, Sherry J. 2011. The Handbook of Crisis Communication.UnitedKingdom. Blackwell Publishing Ltd

Afrilia, A. M. (2017). Memetakan Manajemen Krisis Perusahaan Jasa Travel Umroh “First Travel” Dalam Menghadapi Krisis Perusahaan. Jurnal Ilmu Sosial.

Doorley, J., & Garcia, H. F. (2007). Reputation Management. New York: Taylor & Francis Group, LLC.

Nova, F. (2011). Crisis Public Relations. Jakarta.: PT Rajagrafindo Persada.

Leave a Comment.