Selamat Datang di Dunia Tanpa Privasi

SIRAJULFUADZIS.COM-Zaman dahulu, Privasi adalah ruangan yang sangat berharga. Bagaimana dengan saat ini?

 Pertama kali yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah “Selamat Datang di Dunia Tanpa Privasi”. Saya mengamati media sosial tiga tahun belakang ini membuat penggunanya cenderung tidak lagi memiliki privasi.

Coba list jabatan profesi dan pekerjaan yang menurut anda terhormat di dunia nyata. Dosen, Profesor, atau apa yang Anda anggap mulia, perhatikan sikap mereka di media sosial. Postingan yang dibuat ada beberapa konten yang membuat Anda geli, bahkan sangat bertentangan dengan apa yang ada di dunia nyata.

Postingan yang diunggah dengan alat jitu bernama “KIRIM” bisa mengantarkan tulisan, foto, video menjadi hak milik publik. Bahkan dunia privasi pun menjadi hak milik publik, apa contoh kecil sebuah privasi yang saat ini sering menjadi konsumsi publik?, kamar pribadi adalah salah satu privasi yang sangat kental dahulunya.

Saking kentalnya, tata karma mengajarkan untuk tidak boleh masuk kamar orang tua, namun sekarang kamar bukan lagi sebuah privasi yang di junjung tinggi, sudah terbunuh karakter berbagai profesi.

Kamar itu dalam kondisi bersih atau pun kotor, seorang pengguna sosial ada saja yang berani mengupload. Nyarisnya saat ini, bukan lagi diri sendiri yang bisa menayangkan wilayah privasi demikian, bahkan teman yang sedang berkunjung ke kamar kita pun dapat menyebarluaskan aktifitas Anda.

Ketika teman memposting, ada yang merasa senang. Perilaku ini terjadi karena wilayah Indonesia saat tidak termasuk negara yang berperang senjata, maka itu menimbulkan keadaan negeri yang aman.

Menurut Dr. Neila Ramdhani “Generasi Meilinneal lahir pada saat kondisi jauh lebih tenang, aman dan mudah”. Dukungan untuk terjadinya perilaku yang aneh dan sudah dianggap biasa demikian menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan sosial.

Takutnya, apabila saya menyatakan seperti ini, malah dianggap aneh oleh orang-orang yang sudah terkena virus akut media sosial. Saya juga pernah mengalami dan ikut terlibat dalam era ini, oleh karena itu saya khawatir terhadap negara saya kedepanya karena terbunuh oleh inovasi teknologi.

 Saat ini, ukuran umur dikatakan milinneal tidak lagi bisa diukur, karena sifat dan tindakan yang relatif tidak jauh berbeda antara orang sudah punya umur dengan muda. Seorang bapak tua era ini, juga ada yang menulis status tidak penting di media sosial, anak muda pun begitu.

Terkadang status yang dibuat ada bersifat ambigu, tidak jelas, bernada serangan kepada musuh, melakukan pamer, bangga yang berlebihan. Banyak sikap dan sifat yang dapat dibaca lewat media sosial.

Hadirnya media sosial ditengah masyarakat Indonesia, membuat tangan memiliki sebuah magnet yang sangat kuat untuk dapat memegang erat smarthphone, mengelusnya, memijatnya ke atas bawah, samping kanan dan samping kiri.

Oleh karena itu ada sebuah Kisah, seorang anak yang bercita-cita menjadi smarthphone. Kenapa? Karena bapak dan ibu nya selalu memegang smarthphone, kemana pun pergi bawa smarthphone, makan membawa smarthphone, memeluk smarthphone, dan bahkan jarang memeluk anaknya.

Sekali peluk anaknya dimasukin ke media sosial tidur memegang smarthphone, membuat iri sang anak. Sehingga anak tersebut bercita-cita menjadi smarthphone. Sang anak berkata “ aku bercita-cita ingin jadi smarthphone supaya bersama ayah dan ibuku”.

Saya khawatir masyarakat Indonesia menjadi antisosial. Apa itu antisosial?, tidak mau bergaul, hidup sendirian, dalam keadaan bersebelahan lebih peduli kepada postingan orang yang sakit (diucapkan semoga cepat sembuh yah) dibandingkan teman yang bersebelahan yang sakit (tidak diucapkan semoga cepat sembuh yah), tetapi tidak mendapatkan perhatian khusus, selayaknya berita dari smartphone.

Bisa jadi suatu saat nanti sebelum kita wafat, kita sudah memesan kain kafan, alat pemandian jenazah, kuburan terbaik lewat online.

Saya memanggil para akademisi, aktivis sosial, dan orang tua mari kita jaga dan kita rawat ruang privasi yang ada di rumah tangga, bahkan anak-anak yang menjadi aset bangsa.

Mohammad Ikhsan Tualeka (Founder Empower Youth Indonesia) pernah mengatakan “anak-anak adalah investasi terbesar dan termahal satu bangsa. Menjadikan mereka generasi cerdas, adalah ikhtiar mempersiapkan masa emas bangsa.

Comments.

Leave a Comment.