Teori Komunikasi Massa

SIRAJULFUADZIS.COM, Jakarta- Dalam menambah pengetahuan tentang Ilmu Komunikasi, saat ini sirajulfuadzis.com berbagi seputar teori komunikasi massa, berikut penjelasannya.

Sejarah Komunikasi Massa

Peristiwa komunikasi yang berjarak waktu dan tempat, jauh lebih tua daripada bentuk-bentuk media massa yang lebih besar. Bahkan elemen dari penyebaran ide skala besar (massal) terjadi sangat-sangat lampau, yaitu pada penyebaran mengenai kesadaran dan kewajiban politik serta agama. Pada awal abad pertengahan, Gereja di Eropa memiliki alat terperinci dan efektif untuk memastikan penyiaran tersampaikan kepada semua orang tanpa kecuali.

Persitiwa ini dapat disebut sebagai komunikasi massa, sebagian besarnya bebas dari bentuk ‘media’. Ketika media independen muncul dalam bentuk cetak, penguasa gereja dan negara bereaksi dengan kepanikan akan munculnya potensi kehilangan kontrol yang diwakili media, dan kesempatan yang semakin terbuka untuk menyebarkan ide-ide yang baru dan menyimpang.

Propaganda hitam yang dilncarkan pada masa pertama perang agama yang terjadi pada abad ke-16 sudah cukup menjadi bukti. Hal tersebut merupakan persitiwa komunikasi massa, yaitu pers cetak memperoleh definisi sosial dan budaya tertentu yang tidak dapat ditarik kembali.

Pengertian Komunikasi Massa

Komunikasi Massa (Shoelhi, : 53) adalah proses penyebaran beragam pesan oleh komunikator melalui media massa yang diterima secara serempak oleh khalayak sasaran dengan tujuan menimbulkan efek tertentu. Pidato di depan massa yang luas bukan komunikasi massa, melaikan masuk kepada komunikasi kelompok. Oleh karena itu, efek dan tujuan yang diharapkan jelas.

Dalam komunikasi massa, ada dua hal yang harus diperhatikan oleh komunikator. Pertama, Ia harus tahu apa yang harus dikomunikasikan. Kedua, bagaimana Ia harus menyapaikan pesan agar mudah berjalanya penetrasi pengaruh kepada komunikan.

Asumsi-Asumsi Teori

  1. Komunikasi Massa bersifat umum.
    Pesan yang disampaikan bersifat terbuka bagi khlayak umum.
  2. Komunikasi bersifat heterogen.
    Mengedepankan keterbukaan dalam memperoleh pesan komunikasi yang akan diterima oleh beragaman suku, budaya, profesi dan lingkungan.
  3. Media Massa menimbulkan keserempakan.
    Menyampaikan pesan secara bersamaan kepada sejumlah besar komunikan.
  4. Hubungan komunikator dan komunikan bersifat non pribadi.
    Hal ini mencakup kepada komunikator harus bersikap objektif.

Leave a Comment.